Powered by Blogger.

Monday, April 24, 2017

Dua Sembilan Nol Tiga Tujuh Belas

0 komentar
Salam,,



MU'ADZ

Namanya diambil dari nama sahabat nabi Mu'adz bin Jabal RA, dalam kisahnya Mu'adz dikenal sebagai sahabat yang paling mengetahui tentang kitabullah dan sunnah RasulNya⁠⁠⁠⁠ .

Dari 'Abdullah bin 'Amr RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: 'Ambillah Al Qur`an itu dari empat orang: Ibnu Mas'ud, Ubayy (bin Ka'ab), Mu'adz bin Jabal dan Salim maula Abu Hudzaifah.' " [HR. Bukhari No.4999]

Dari Anas RA, bahwa Nabi SAW bersabda: “Umatku yang paling penyayang kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama adalah Umar, yang paling tulus rasa malunya adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.” [HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dari Anas]

Dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya kedudukan Mu'adz bin Jabal berada didepan para ulama.' "

(Sumber: Buku Sahabat-Sahabat Rasulullah SAW, Karya Syaikh Mahmud Al Mishri)

 


Saturday, September 3, 2016

Berdamai dengan "full mom or half mom?"

0 komentar
Salam,,

Seneng ya, kalau kita akhirnya bisa berdamai dengan sesuatu yang pernah membuat kita galau menjalani hari-hari. Em....sejujurnya sudah lama saya memutuskan untuk tidak akan membahas masalah ini lagi. Tapi...entah kenapa baru sekarang mau di-share.



Ini mau ngebahas apaan sih? Hehe

Kegalauan lalu, saat berada di awal-awal melakoni peran sebagai ibu. Dan saya lihat masih banyak juga yang membahas tentang ini. Tentang "full mom or half mom? Berkarir di rumah atau di luar rumah?" Dan seterusnya dan seterusnya... Pasti buat beberapa orang ini basi banget! Iya, agak basi. Tapi menurut saya, ini nggak boleh basi buat kita yang menginginkan di kehidupan mendatang tidak akan ada lagi wanita-wanita galau semacam ini. Terkhusus, bagi anak-anak kita sendiri, mereka wajib ter-edukasi.

Singkat saja. Semakin kesini saya semakin sadar, kegalauan itu muncul karena terkadang saya lupa bahwa angka 6 bisa menjadi angka lain jika dilihat dari sisi yang berbeda. Kondisi yang ada pada saya saat itu, yang membuat saya galau akut, mungkin justru kondisi yang sedang didambakan orang lain di luar sana. Entah dari sisi yang mana. Dan saya lupa bahwa kondisi yang ada pada saya saat itu adalah kehendak Allah. Tapi menjadi galau tanpa usaha yang berarti, adalah hasil pilihan kita, dan itulah yang akan dinilai di dalam catatan kehidupan.

Maka di sanalah titik kedamaian muncul. Bahwa bisa jadi Allah meletakkan saya pada kondisi itu sebagai salah satu cara untuk menilai dan memberikan pelajaran. 

Dan pelajaran berharga yang saya peroleh adalah, hampir setiap posisi yang Allah berikan kepada kita itu unik. Maka jika diibaratkan angka 6, kondisi kita bisa terbaca berbeda-beda satu sama lain jika dilihat dr posisi masing-masing. Ada yg membaca dengan penafsiran sama, hampir sama, berbeda, atau berbeda jauh. Maka kecenderungan untuk memilih mana yang terbaik antara "full mom or half mom" pun akan berbeda bahkan hampir unik.

Maka apa yang sering disampaikan, "Berhentilah men-judge!" itu benar sekali. Karena kita tidak sedang berada pada posisinya. Dan lagi, itu tidak juga berguna bagi catatan penilaian hidup kita. 

Jadi kalau disuruh membuat kesimpulan, "full mom or half mom" adalah hitung-hitungan kita, bisa jadi pilihan atau bukan sama sekali. Tapi mengetahui keutamaan dan kewajiban wanita diciptakan adalah keharusan. 

Selamat berhitung....jangan lupa sertakan Allah dalam setiap keputusan. Insya Allah, damai...^^

Wednesday, August 24, 2016

Ngomongin Balita dan Gadget

0 komentar
Salam,,


Ini termasuk topik hangat yang sedang banyak dibahas di dunia parenting. Dan menurut saya, ini memang penting banget dibahas. Banyak sekali artikel dengan judul 'Bahaya Gadget Bagi Anak' berseliweran di media sosial.

Awalnya ketika Safanah masih berumur 1 tahunan, saya belum terlalu khawatir dengan ini. Waktu itu yang ada di pikiran saya cuma 'Ah, gampanglah nanti, tinggal disembunyiin aja. Nanti makin gede juga ngerti sendiri.'. Iya segampang itu dulu mikirnya.


Tapiii...setelah si anak beranjak melentik di usia 2 tahun-an, baru kerasa tantangannya. Dulu mikirnya semua bisa saja dihandle karena anak sendiri juga. Tapi ternyata, memang betul, tantangan orang tua jaman sekarang itu bukan cuma sebatas 'tahu teori dan tata cara'. Tantangan terbesar adalah 'Dunia Luar'. Kita bisa saja menerapkan berbagai teori, mengatur anak kapan boleh main gadget, jam berapa boleh nonton TV, dsb. Tapi si anak tidak mungkin juga dikungkung di rumah tanpa sosialisasi. Dan inilah...titik awal kegalauan terjadi. Kita semua sebagai orang tua pasti senang kalau anaknya bisa bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan sekitar. Belajar sharing mainan, ngobrol (walaupun kalau didengerin obrolannnya kita jadi cekikikan sendiri karena sok nyambung padahal benang ruwet, :D ), explore hal baru, dsb. Nah, nah, yang jadi masalah adalah, ketika di rumah kita bisa nyembunyiin gadget supaya si anak tidak kenal dulu, eh tiba-tiba anak tetangga dengan jumawa datang sambil pencet-pencet layar touch screen muter youtube. Alamak...masak iya saya mau serobot itu tab terus dilempar jauh-jauh? Bisa-bisa mamak bapaknya naik pitam. Dialihkan perhatian? Juara banget kalau langsung berhasil. Itu anak-anak kalau sudah lihat kartun dan segala macam benda bergerak di layar gadget, mata dan telinga jadi kayak gak berfungsi. Mantengiiin...terus. Huft...yaudah mamak ngalah dulu, sabar, nunggu sampai puas dikit, baru diajak pulang.

Itu baru tantangan pertama. Tantangan kedua dari monster bernama 'gadget' adalah, kita sendiri. Sudah tidak bisa dipungkiri kalau komunikasi manusia jaman sekarang semua lewat gadget. Tanpa si gadget ini, terbukti kita bisa ketinggalan info hampir 50% (perkiraan sendiri :p). Apalagi yang kedua orang tuanya sama-sama punya kesibukan di luar, mau tidak mau kalau sedang di rumah, itu HP harus stand by kalau-kalau ada yang menghubungi. Nah, momen ketika kita harus balas sms atau chat dan dilihat si anak yang pernah nonton temennya bisa muter kartun dengan alat serupa, itu momen paling drama. "Ummi, main hapeee..." , "Jangan sayang, ummi lagi bales sms", "Aiiiihhh...mau main hapeee...." , "Ngga boleh..." , "Main hape ummiii..." , "Ngga boleh nak..." , "Hiks, huaaaa..."

Tantangan ketiga, ketika di tempat umum. Dan ini bener-beneeerrr...menguras kesabaran. Misal lagi di warung makan, pesenannya belum datang juga. Tiba-tiba si anak muka bosen, terus mulai keluar suara, "Ngik, ummi, ngik" , "Kenapa safa?" , "Main hape" , "Eh, kan safa mau makan, ngga boleh main hp" , "Main hape ummiii..." , "Ngga boleh.." , "Abi, main hape" (ngadu ke abinya). Nah, di sini letak kekompakan orangtua sangat urgent. Pernah suatu hari karena abinya ga tahan lihat anaknya ngak ngik di warung, akhirnya suruh kasih. Dan......jurus baru pun dipelajari oleh si anak. Dia jadi semacam belajar, kalau di tempat umum, aku ngak ngik, nangis, bakalan boleh main hape sama abi. Benar saja, tiap ke warung makan atau tempat umum lainnya, dia suka merajuk bahkan tidak jarang sampai teriak-teriak mengundang perhatian orang. Dan bagian ini yang sering bikin orang tua ngga kuat, ngga enak sama orang sekitar, akhirnya dikasih. Menangggg....

Nah, solusinya gimana? Jujur kami masih berusaha keras dengan masalah gadget ini. Tapi, melalui banyak pelajaran berharga dan melihat dampak-dampak negatif yang terlihat nyata, saya dan abinya membuat beberapa kesepakatan. Ini cukup berat sebenarnya, karena butuh komitmen tinggi. Tak jarang saya juga sering khilaf. Tapi alhamdulillah...berangsur-angsur memberikan dampak positif. Kesepakatan apakah itu?

Awalnya kami membuat satu kesepakatan untuk menyembunyikan HP masing-masing. Harapannya kalau gak diperlihatkan, frekuensi merajuk juga berkurang. Berjalan beberapa minggu berjalan baik. Tapi ketika tidak sengaja si anak nemu HP, dia langung buka sendiri aplikasi, mulai dari pencet-pencet playstore sampai terdownloadlah game-game aneh. Lama-lama kami pun berpikir. Ini sepertinya bukan cara yang tepat karena justru anak akan makin penasaran.

Akhirnya kami mencoba membuat kesepakatan lain. Kami berfikir bahwa, pada dasarnya gadgdet adalah teknologi yang baik. Mau tidak mau si anak akan mengenalnya, entah dari dalam lingkungan keluarga atupun dari lingkungan luar. Dan kita tidak mungkin akan terus menyembunyikannya. Yang perlu kami lakukan adalah mengajarkannya untuk mulai bijak terhadap gadget.

Akhirnya, HP tidak disembunyikan, tetapi diletakkan sesuai tempatnya. Tapi tetap, frekuensi orang tua pegang hape ketika di rumah benar-benar harus diminimalisir. Pokonya pegang gadget kalau betul-betul perlu. Anak merajuk? Sudah pasti. Dan inilah saat-saat di mana drama selanjutnya dimulai. Awal-awal kami benar-benar harus sabar melihat si anak menangis tersedu-sedu minta main hape. Kami tahu pasti sakit sekali hatinya melihat barang yang disuka tergeletak bebas tapi dia ngga boleh menyentuhnya. Dan lagi, kekompakan orang tua jadi modal utama. Satu kali ada yang kalah, si anak semakin susah ditaklukkan. Sounding ke anak sangat penting. Saat si anak nangis, saat itu juga kita harus beri pengertian dalam-dalam, "Safa, safa kan masih kecil, belum boleh main hape. Nanti matanya sakit lho. Nanti kalau sudah besar kayak ummi, kayak abi, baru boleh... Itu boneka sama mainan safa banyak, kasihan tu ngga diajak main. Safa kan pinter..." Disounding dan disounding terus walaupun sambil kejer, harus kuat. Bahkan kadang harus tega.

Dan...setelah melalui beberapa episode drama, alhamdulillah si anak sekarang lebih mengerti. Mulai dari ketika melihat HP tergeletak dia hanya pegang-pegang, lihat ke arah kami, kami menggoyangkan jari tanda larangan, kemudian senyum dan pergi, akhirnya sekarang ketika melihat HP tergeletak di rumah, di alangsung bilang, "Ummi, anak kecil nda boleh main hape..." , "Iyaa..pinter safa masya Allah..." Kemudian kembali main sepeda. Dan kalau lihat ummi atau abinya pegang hape, si anak tidak lagi merengek seperti dulu. Sepertinya dia belajar, 'Percuma aku mau nangis gimana minta itu HP, abi sama ummi pasti ngga ngasih. Yaudah aku main sepeda lagi aja" hihi. Seneng...rasanya usaha kita memberi dampak positif. Dan konsekuensinya adalah, kita harus menyediakan banyak mainan lain yang tidak kalah serunya.

Namun, masih ada PR untuk kami, yaitu ketika berada di tempat umum. Kami masih kesulitan mengontrol si anak karena sampai sekarang dalam kepalanya masih tertanam pemikiran, 'Kalau di luar rumah, aku boleh main hp". Di satu sisi memang si gadget ini membantu saat kami perlu berbincang serius dengan orang lain. Tapi di sisi lain kami secara tidak langsung memberi jurus bagi si anak. Tapi setidaknya dia sudah tidak terlalu 'gandrung'. Kalaupun minta main, dia mulai cepat merasa bosen terus dikembalikan sendiri.

Huft...mudah-mudahan cara yang kami berikan tidak salah. Mudah-mudahan semakin besar si anak akan semakin bijak menggunakan teknologi. Dan semoga PR ini cepat teratasi. Semangat!^^

Wednesday, August 17, 2016

Malam-malam Berharga

0 komentar
Salam,,

Enam puluh menit berlalu sejak mereka memejamkan mata. Wajah-wajah lelah yang bahagia tergambar pada garis-garis alis hingga dagu. Alhamdulillah yaa Allah…atas nikmat hari ini. Nikmat iman, sehat, waktu, dan segala hal yang terjadi hari ini, sebagai lembaran-lembaran materi pelajaran untuk melangkah ke hari esok. 

Lalu, waktunya saya untuk kembali beranjak. Iya, inilah salah satu waktu yang masuk dalam daftar kegiatan sehari-hari. Ketika suami telah terlelap dalam lelah setelah seharian berjibaku dengan bermacam kegiatan yang ditutup dengan menemani Safanah lomba lari, main sepeda, menyusun puzzle, sampai harus memutar otak menyusun cerita dongeng baru. Lalu akhirnya si anak memutuskan untuk, “Bobok Abi, bobok ummi”, dan dalam waktu kurang dari 30 menit setelah berdoa, mereka terpejam. Saya sengaja menjaga mata supaya tetap terjaga, walaupun tidak jarang juga saya keterusan ikut terlelap. Dan ini bikin sediiihhh banget saat terbangun. Rasanya saya telah melewatkan satu kesempatan berharga. Segitu berharganya kah? Iya. Banget. Atas kehendak Allah, saya diberikan beberapa amanah di siang hari yang membuat saya merasa “kekurangan waktu” untuk sekedar membuka group whatsapp (maaf teman-teman kalau saya sering slow respon, hiks), membaca saved post di facebook, update followed blog, tidak memubadzirkan buku-buku yang kalap dipesan, dan termasuk untuk online shopping, hihi. Pokoknya waktu seperti ini saya jadikan moment untuk meng-upgrade informasi. Karena ternyata jadi istri dan ibu, ilmu yang dibutuhkan lebih kompleks. Termasuk di dalamnya ilmu mengelola diri. Makanya kalau ketiduran, nyeselnya lumayaaan juga. :D

Dan malam ini, malam tanggal 17 Agustus, saya seneng banget masih bisa terjaga. Mumpung besok juga libur (pssssttt…besok tidak ada jadwal ikut upacara),jadi saya bisa puas mau sampai jam berapa tanpa khawatir kesiangan masak. Sejak jadi mamak-mamak, saya berfikiran bahwa kalau tetap ingin memperkaya informasi, waktu istirahatlah yang harus kita ikhlaskan. Susah kalau mau selalu nurutin prinsip ‘Istirahat yang cukup’ karena waktu untuk ‘amanah-amanah’ di siang hari tetap harus 100% dan tidak sepatutnya disambi-sambi. Sementara memberikan 100% buat semua itu perlu banyak belajar supaya lebih terarah. Namanya juga masih belajar…semoga Allah meridhoi, senantiasa mudahkan jalan dan berikan kesehatan.

Nah, nah, pertanyaannya sekarang, kok tiba-tiba update blog?

Sejujurnya, setiap menjalani malam-malam seperti ini, saya tak jarang menulis apapun yang ingin saya tulis, namun hanya berakhir sebagai draft. Entah sejak kapan saya merasa semakin tidak percaya diri untuk membagi apa-apa yang saya tuangkan dalam tulisan yang gamblang. Apalagi tentang kehidupan saya. Saya lebih percaya diri ketika membagi apa yang saya ambil dalam bentuk foto di instagram, karena dalam pikiran saya, foto hanyalah sekedar foto. Dan Instagram hanyalah tempat menyimpan kumpulan kekaguman hasil tangkap visual mata dari ciptaan Allah. Sedangkan tulisan, range makna akan semakin sempit karena tulisan adalah bagian penting dari definisi. Dan di sanalah saya berfikir, kemungkinan kesalahan mendefinisikan kejadian semakin besar. Tapi yang paling membuat saya tidak percaya diri adalah, bahwa saya merasa pengalaman hidup yang saya alami tidak seberapa dibandingkan mereka yang diuji dengan berbagai ujian ketegaran yang luar biasa. Apalagi untuk mengeluh, setiap mendapati postingan video keadaan saudara kita di palestina, suriah ataupun di seluruh belahan dunia, semakin merasa apalah hak saya untuk mengeluh. Ditambah lagi wanti-wanti dari suami bahwa yang namanya perempuan dan medsos itu cukup membahayakan. Salah-salah bisa kebablasan curhat macam-macam masalah rumah tangga. Dan saya…..masih cukup berusaha keras di bagian ini. ^^v

Hingga akhirnya…semakin saya membaca tulisan-tulisan inspiratif dari mereka yang luar biasa, saya jadi punya pandangan baru. Jikalau semua orang punya pikiran yang sama seperti saya, yaitu merasa tidak pantas, maka tidak akan ada tulisan inspiratif, dan tidak akan pernah ada orang seperti saya pula yang belajar dari tulisan orang lain. Bagaimana kita bisa belajar kalau tidak ada yang berbagi? Bagaimana kita bisa tahu kalau tidak ada yang memberi tahu? Ya, akhirnya saya mendapatkan satu titik kesepakatan diri bahwa tidak ada salahnya membagi apa yang kita alami karena kita tidak pernah tahu se-tidak bermanfaat apakah tulisan kita. Bisa jadi dari sekedar tulisan abal-abal semacam ini ternyata bisa membuat orang lain juga ingin menulis untuk membetulkan tulisan ataupun pandangan kita yang kurang tepat. Ya, kita tidak pernah tahu… Yang harus tetap dijaga adalah saya tidak boleh melupakan kebermanfaatan dari apa yang akan saya tulis. Jangan sampai kepleset dari wanti-wanti yang sudah disampaikan suami. Jangan sampai hanya berisi keluhan tanpa hikmah. Jangan sampai dari tulisan saya justru menimbulkan energi negatif bagi yang membaca. Jangan, jangan sampai ya Allah….. :’(

Dan akhirnya, saya berharap masih bisa menjalani malam-malam seperti ini. Bermesra dengan hal-hal baru yang bermanfaat, kepo tulisan serta perangai orang-orang inspiratif pilihan Allah, dan semoga masih bisa terus diberi kesempatan untuk berbagi, semoga bisa bermanfaat, semoga bisa terus belajar dari mereka yang luar biasa, dan semoga Allah meridhoi…aamiin.

Kita adalah para wanita yang di pundak ini terdapat amanah besar peradaban. Kita adalah para wanita yang diletakkan tanggung jawab akan generasi cemerlang masa depan. Dan tidak ada peradaban cemerlang tanpa teladan dari wanita-wanita yang taat...

Nikmat itu bernama 'Kesempatan'




Friday, November 21, 2014

Aku Kemana?

0 komentar
Salam,,

Jadi gini ya, kalau udah berkeluarga? Nggak produktif, blog nggak pernah diupdate, sering ngilang-ngilang, jarang gabung-gabung kalo ada obrolan di group, kalo balas sms atau whatsapp luamaaa. Jadi gini ya???

Uuups, please jangan me-generalisir yaaa. Sayanya aja yang mungkin kurang pandai manage waktu. Iya sih...tugas nambah, skala prioritas pasti berubah. Sejauh ini saya masih berusaha untuk memanage waktu sebaik-baiknya, menata waktu sejak bangun sampai bangun lagi. Tapi...kok ya masih belum menemukan satu deal dimana saya bisa memasang label 'penting' pada aktivitas nge-blog. Setiap mau memulai, selaaalu ada aja suara yang tiba-tiba  muncul di kepala. Entah itu, "Eh, kemarin kan mau baca tentang ini", "Eh, jemuran belum dilipet", "Eh, searching menu buat besok dulu", "Eh, kemarin celana abu Sa sobek tu", "Eh, mau nelpon ibuk dulu deh", "Eh, ini kok sarang laba-laba udah pada muncul lagi sih", daaaann masih banyak Eh Eh yang lain, terutama "Eh, bingung ah mau nulis apa".

Saya sebenernya seneng bangettt...bisa tergabung dalam group-group entah itu di facebook, wa, line, dsb. Apalagi yang di dalamnya tentang sahring ilmu segala ilmu. Tapi saya termasuk yang jarang 'ngomong', tapi tetep mengikuti walopun suka telat-telat, hehe. Saya ini tipenya memang kurang suka chatting, lebih seneng ketemu langsung. Chatting itu cenderung akan keterusan karena kan memang pembicaraan pasti akan berlanjut terus. Sementara saya suka tiba-tiba ngilang di tengah perbincangan dengan berbagai alasan. Kan gak enak kalau lagi asik-asiknya ngobrol, terus ada orang nyambung omongan kita, terus nggak saya balas. Kayak dicuekin nggak sih? Ehm...sebenernya bisa sih, saya pamit dulu. Tapi saya sering lupa, hihi *nggaksopanya

Jadi ya gitu...saya sering memilih untuk jadi penyimak saja. Mudah-mudahan semua berkenan ya...dan terutama bukan dengan maksud tidak mau menyambung tali silaturahmi. Dan kalau ada yang nanya, "Medya, kok blognya nggak pernah diupdate lagi sih?" Maaaappp...agak miris juga lihat tanggal posting terakhir, hihi. Selain susah sinyal di rumah, akhir-akhir ini gairah menulis agak surut. Mohon doanya semoga semangat lagi yaaa...



Good Night :)

Saturday, December 21, 2013

Maafkan Ummi, nak...

0 komentar
Salam,,

Hari ini, adalah hari pertama saya kembali ke kantor setelah tiga bulan penuh menikmati hari-hari cuti sebagai ibu rumah tangga sejati. Alhamdulillah...hari ini berbarengan juga dengan hari pertama memasuki kantor baru. Iya, kami sudah mutasi ke kabupaten Majene. Walaupun kami belum mendapatkan rumah kontrakan, tapi alhamdulillah ada kos-kosan bagus untuk tinggal kami sementara sembari mencari-cari rumah. Maklum, Majene kota kecil yang belum semaju Polewali sehingga jarang pengunjung dari kota lain. Akibatnya, sangat sedikit orang meniatkan diri menyediakan rumah kontrakan.

Hari pertama masuk kantor, senang sekali karena ketemu dengan teman seangkatan, dengan kakak-kakak tingkat, teman-teman baru dan tentunya suasana baru. Karena belum ada pengasuh dan saya juga belum mantap apakah cari pengasuh atau tidak, akhirnya Safanah saya ajak ke kantor. Awalnya seneng...karena di kantor ada juga mbak tingkat yang juga bawa anak seumuran Safanah. Safanah sering dipinjami ayunannya dan ternyata dia seneng banget.

Tapi sesampainya di rumah, sedih sekali melihat Safanah mukanya sayu setelah saya turunkan dari gendongan. Wajahnya terlihat letih. Tiba-tiba saya teringat suatu hari saat saya masih menginjak bangku SD. Pernah suatu hari teman saya sepulang dari sekolah mampir ke rumah saya. Saya ingat betul waktu itu dia berkata pada saya, "Kamu enak ya, punya ibuk di rumah, tiap pulang sekolah udah dimasakin. Aku selalu disuruh beli makan sendiri". Tiba-tiba saya merasa bersyukur sekali punya ibuk di rumah. Iba rasanya melihat teman-teman saya yang pulang ke rumah tidak ada ibunya yang membantu melepaskan sepatu dan pakaian seragamnya seperti ibuk. Dan hari ini, saya berkaca-kaca melihat Safanah yang keletihan karena seharian dibawa ke kantor. Membayangkan beberapa tahun ke depan ketika saya harus bekerja dan meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh. Maafkan Ummi, nak... Gara-gara Ummi, Safanah harus tidur di dekat parkiran motor karena di dalam kantor panas. Gara-gara Ummi, beberapa kali kudekap erat Safanah karena kaget kedinginan diterpa angin saat naik motor. Gara-gara Ummi, Safanah sering kepanasan matahari siang ditambah debu yang bertebaran.

Karena itulah, saya berjanji dalam hati untuk selalu memberikan yang terbaik buat Safanah. Yang terpenting adalah saya bisa lebih banyak berinteraksi dengannya walaupun saya juga harus bekerja, tetapi tidak juga membuatnya keletihan seperti hari ini.

Ya Robb...berikanlah yang terbaik untuk Safanah, untuk kami semua. Aamiin.

Friday, December 6, 2013

Wherever You Are, That's the Part of Your Destiny

0 komentar

Salam,,

Rintik hujan sudah tak terdengar lagi. Tapi aroma dinginnya masih menyelimuti hening malam ini. Selimut dan wajah lugu kalian dalam lelap di sampingku sungguh terasa menyempurnakan. Hhhh...sayangnya mata ini masih sulit terpejam untuk menjelajah alam mimpi bersama kalian.

Alhamdulillah...kepastian yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami akan segera pindah ke tempat tugas baru di kabupaten sebelah. Pengalaman berpindah-pindah tempat sejak kecil membuatku terbiasa dengan hal seperti ini. Walaupun kemarin saat hendak berangkat menuju pulau ini, pulau yang tanahnya belum pernah tersentuh telapak kakiku, saya sempat merasa khawatir. Membayangkan suasana yang mungkin jauh berbeda dari tempat-tempat sebelumnya, orang-orang yang mungkin jauh berbeda dari orang-orang yang sebelumnya kukenal, bahasa yang sebelumnya tak pernah ku mengerti, bla bla bla dan sebagainya. Untungnya aku datang ke pulau ini tak sendiri. Dan setelah kujalani hingga saat ini, biasa-biasa saja, bahkan di luar dugaan. Kekhawatiran yang lalu adalah hal yang tidak perlu. Semua berjalan tidak jauh berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Justru banyak hal baru yang kualami, banyak cerita yang bisa kubagi dengan mereka di sana. 

Yogyakarta, satu tahun yang lalu

Hidup di dunia adalah perjalanan singkat. Kadang kita memang terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Banyak hal yang jauh lebih penting untuk kita risaukan, seperti apa yang persiapkan dengan waktu kita di dunia ini. Yakin saja, Allah telah mengatur semuanya dengan sangat rapih. Dia tidak akan memberikan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Selama nafas masih berhembus, maka selama itu juga nikmat dan rezeki dari Allah akan terus mengalir. Semua sudah teratur dengan baik. Kita tinggal menjalaninya sesuai apa yang diperintahkan. Ketika menemui hal baru, maka bersyukurlah, karena berarti Allah memberika alur cantik dan bervariasi untuk hidup kita.

Polewali Mandar Sulbar, hari ini
So, dimanapun kita berada, itulah bagian dari takdir kita... 
Selamat malam, ^^

 

Monday, November 11, 2013

Tentang Syukur

0 komentar
Salam,,



Sungguh, benar-benar banyak sekali dalam hidup ini yang harus disyukuri. 

Beberapa kali saya menonton acara di televisi yang mengangkat kehidupan orang-orang pinggiran, orang-orang yang hidup serba kekurangan. Dan beberapa kali itu juga saya selalu tidak tahan menahan sesak dalam hati. Ya, apalagi kalau bukan karena jengkel pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri. 

Seperti ketika melihat tayangan seorang anak kecil yang bukannya duduk nyaman di bangku sekolah untuk menuntut ilmu, tapi ia bersusah payah berjalan saaangat jauh, memikul ember berisi air untuk minum, masak, dan keperluan rumah lainnya. Hanya dengan dua ember hasil pikulannya yang mungkin...sesampai di rumah tinggal setengahnya saja karena tumpah terkoyak di perjalanan. Sementara saya....baru pompa air mati sebentar saja sudah ribut berkeluh kesah. Padahal masih bisa juga ditimba. 

Atau ketika saya melihat tayangan tentang sebuah keluarga yang sangat kekurangan, tinggal seorang ibu yang ditinggal pergi sang suami, anak gadis yang tidak sanggup meneruskan sekolah dan seorang balita kecil yang masih butuh perawatan untuk tumbuh kembangnya. Tapi apa dikata, tak ada uang mereka untuk membelikan susu buat si kecil, air gula pun ternyata mampu membuat si kecil terus tertawa gembira di antara teman-temannya yang membawa dot berisi susu. Sementara saya di sini masih suka membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak penting. 

Allah.... Engkau memang Maha Adil. Engkau ciptakan mereka orang-orang kuat pilihan-Mu yang sungguh aku kagum dengan senyum yang tetap tersungging di wajah mereka. Lindungilah mereka Allah, limpahkan anugerah pada mereka. Jagalah mereka...jagalah kami, dan jauhkan kami dari kesombongan atas segala nikmat dari-Mu.

Wednesday, October 16, 2013

Tentang Hari Ini ~ Late Post

0 komentar
Salam,,

Masih berjibaku dengan rutinitas baru bersama keluarga kecil ini. Tapi tetap tak lupa menyisihkan waktu untuk menikmati masa-masa cuti ini. Tetap terus belajar, memperkaya 'bekal' dan tidak pernah berhenti menelusuri segala sisi dan sudut bumi untuk dijadikan inspirasi menjalani peran ini.

Tentang hari ini...ya, alhamdulillah, 10 Dzulhijjah 1434 H.
Salah satu hari yang kami, kita semua umat muslim nantikan. Yang mengingatkan kita tentang sebuah 'ketaatan' luar biasa dari sosok Ibrahim alaihissalam dan Ismail alaihissalam. Tapi bagi saya pribadi, ada hal lain yang juga sedikit mengingatkan saya pada satu euforia rasa. Ketika setiap dokter dan bidan yang pernah saya datangi menyebutkan dengan tegas bahwa buah hati diperkirakan akan lahir tanggal 15 Oktober 2013, hari ini, bertepatan dengan Idul Adha. Tapi skenario Allah sungguh luar biasa. Hari ini, buah hati sudah ada di pangkuan, mata dan telinganya telah mengenali keberadaanku, menggerak-gerakkan tangan dan kaki seolah menari menikmati setiap hirupan udara bumi.




Semoga...semoga hari ini bisa menjadi pengingat buat kita, nak. Semoga kita bisa meneladani satu kisah luar biasa tentang hari ini. Bahwa tak ada yang boleh mengalahkan rasa cinta dan taat kita pada Sang Khaliq, Allah subhanahu wata'ala.

Friday, September 27, 2013

Keajaiban Kecil di Septemberku

0 komentar
Salam,,


Sembilan belas September dua ribu tiga belas...
Saat malam masih membentangkan gelap, namun pagi mulai memercikkan hawa subuhnya
Sesuatu yang tak terduga tapi dinanti adanya, datang juga
Engkau mulai bergerak menuju jalan kehidupan dunia,
Tapi berjuta keraguan ini menahan untuk segera beranjak,
Hingga keyakinan tentangmu datang bersama rasa yang tak tertahan

Allahu Akbar... sepenggal kalimat agung yang tak hentinya terucap
Bersama aliran-aliran darah yang membawamu semakin dekat
Hingga ketika mentari menyeringai membawa waktu dhuha,
Lahirlah malaikat kecilku...mujahidahku...
Yang dalam sekejab menghapus perih tiga jam lalu

Masya Allah...
Maka benar tentang apa yang terucap dari sahabat Umar bin Khattab,
Bahwa tak ada yang cukup untuk membalas budi seorang Ibu
Karena seorang anak merawat ibunya sembari menunggu Allah mengambilnya,
Sementara seorang ibu merawat sembari mengharapkan kehidupan anaknya...

Untuk Ibu...
dan untukmu, sayang
Inilah aku,
Wanita yang menanti kata 'Umi' dari mulut kecilmu,
Sebuah panggilan terindah yang pernah kumiliki...

Medya_

Tuesday, September 17, 2013

Rahmat Menangis

0 komentar
Salam,,

Ali, menantu Rasulullah itu, suatu hari pernah mengeluarkan kalimat indah tentang menangis. "Maka ingatlah, jika kalian mendapatinya (rahmat tangisan itu), manfaatkanlah untuk berdoa." Menangis itu ternyata rahmat. Dan jika kita kedapatan dalam kondisi membersamainya, berdoa adalah sebaik-baik aktivitas.

Saturday, September 14, 2013

Semua Karena Bento

1 komentar
Salam,,

Alhamdulillah....akhirnya sabtu pagi lagiiii! Yeay! 
Selalu excited sama sabtu pagi karena sejenak bisa terbebas dari rutinitas kantor dan pastinya bisa corat coret lagi di blog kesayangan ^o^

Kali ini saya mau sedikit sharing pengalaman tentang passion memasak saya yang muncul sejak 'single' dan semua itu karena bentooouuu. Mau tahu gimana ceritanya? Yuk yuk sini merapat sebentar ;D

Awalnya, saya tidak terlalu hobi dalam hal masak memasak. Walaupun saya akui ibu adalah wanita dengan tangan ajaib dalam hal mengolah aneka kuliner, entah kenapa sampai saya menginjak bangku kuliah tahun ke-3 belum juga terasa ada bakat ibu yang mengalir ke diri saya. Ibu juga sudah sering mengingatkan untuk sedikit-sedikit belajarlah memasak. Katanya supaya nanti tidak malu sama suami dan mertua. Tapi....beluuum juga bisa menggoyahkan saya. Justru dari dulu saya lebih tertarik pada fotografi dan desain grafis. Karena itulah, saat saya mulai berselancar di dunia maya, kata kunci pertama yang saya ketik selalu tidak jauh dari hal-hal berbau fotografi dengan bermacam-macam tema.

Hingga suatu ketika sampailah saya pada tema food photography. Hmmm...ada yang berbeda tiap memandangi foto-foto makanan. Antara takjub, menyejukkan, segar, dan laperrr...tiba-tiba di sana jadi muncul keinginan untuk bisa memasak semacam itu, menatanya dengan cantik dan menarik, lalu memotretnya untuk koleksi. Apalagi saat saya melihat foto-foto bekal makanan yang terlihat segar dan ditata apik, rasanya pengen juga bisa bikin bekal seperti itu terus dibawa piknik jalan-jalan sama teman-teman. Waaaah....pasti seru! Sayangnya waktu itu lebih banyak pengennya daripada eksekusinya. Hihi.

Dan akhirnya sampailah saya pada masa-masa setelah lulus kuliah. Saat itu sembari menanti pengangkatan CPNS, saya dan teman-teman satu angkatan di-magang-kan dulu di kantor pusat Jakarta. Jam magang kami dimulai sejak jam setengah delapan pagi sampai jam empat sore. Tentu saja, dengan jam kerja seperti itu saya terpaksa sarapan dan makan siang di kantin kantor yang notabene harga-harganya diukur setara harga pegawai. Padahal saya ini masih magang dan honor yang didapat sangat mepet untuk biaya hidup di Jakarta. Belum lagi biaya transport ke kantornya. Akhirnya, mau tidak mau harus memutar otak untuk memangkas pengeluaran-pengeluaran yang semakin membengkak selama magang. Dan setelah dihitung-hitung, memang pengeluaran terbesar ada di sarapan dan makan siang. So...sepertinya membawa bekal adalah alternatif terbaik untuk mengurangi pengeluaran makan.

Jadi dari sanalah saya mulai belajar membuat bekal berbentuk bento untuk ke kantor. Di masa-masa awal, saya harus belajar banyak tentang manajemen waktu dalam membuat bento dan tentu saja menu-menu apa yang praktis tapi tetep enak buat jadi bento. Saya searching di sana-sini tentang aneka bento. Senangnyaaaaa....saat saya ketemu sama salah satu blog berisi aneka bento beserta kategori-kategorinya. Yap! Nama blognya Bento Mania. Sukaaa banget karena ada banyak resep dan tutorial bento serta aneka kuliner. Ditambah lagi foto-foto yang ditampilkan bagus-bagus. Passion fotografi saya pun juga ikut terpuaskan, hihi.




Gara-gara nemu Bento Mania, saya pernah menghabiskan waktu berjam-jam scroll semua posting dari atas sampai bawah cuma karena penasaran sama bento-bentonya. Lucu-lucu siiih...^^ Dari sanalah juga saya jadi makin semangat buat bento ke kantor.

Ini nih, penampakan-penampakan bentonya Bento Mania. Mupeeengg pengen bisa bikin kayak begini. Mupeng juga sama pernak pernik bentonya yang lucu-lucuuu >,<





Klik Foto Untuk Menuju Artikel

Sayangnya waktu bikin bento selama magang, saya gak sempat bikin yang lucu-lucu kayak di Bento Mania. Palingan cuma ditata-tata sedikit dan inilah beberapa hasil bento sederhana buatan saya dari masa ke masa yang sempat diabadikan. Biarlah sederhana tapi saya cukup puasss karena dari jarang masak saya jadi 'lumayan' rajin masak karena buat bekal ke kantor, hehehe.






Oh ya, ternyata dari ke-kepepetan yang menuntut saya untuk bawa bekal bento selama magang telah memunculkan hikmah luar biasa dalam hidup saya sekarang. Jadi kalau boleh saya simpulkan, memulai untuk membuat bento sejak masih 'single' itu punya banyak kelebihan:

1. Sudah dibuktikan hemat, hemat, hemat banget pengeluaran untuk makan.

2. Makanan yang kita makan terjamin kebersihan dan kesegarannya, karena kan kita sendiri yang bikin ^^. Jadi sudah pasti, sehat hat hat.

3. Memulai sejak 'single' untuk belajar masak dan manajemen waktu di pagi hari untuk menyiapkan sarapan/bekal. Ini penting banget, karena saya sendiri merasakannya setelah menikah jadi tidak terlalu 'kagok' di dapur. Apalagi kalau masak di depan suami atau mertua, lumayan agak pede dikit. Setidaknya kan udah bisa beda-bedain bumbu ini itu, hehe.

4. Sebagai ajang praktek aneka resep baru untuk menu bento kita.

5. Sebagai ajang menumpahkan segala kreativitas kita. Yup, penataan dalam bento itu juga penting buat menggugah selera, jadi setidaknya penataan juga perlu kreativitas, hehe.

6. Meningkatkan passion memasak. Terbuktilah sejak saya mulai agak rajin bikin bento, saya juga mulai penasaran sama resep-resep dan mulai mencoba resep ini itu. Dan dari sanalah akhirnya saya punya blog Diary Cooking saya. Mau lihat penampakannya? Ini nih... *pamer dikit, hihi*

Klik Gambar Untuk Menuju Site

Dan itulah cerita saya tentang passion masak yang muncul berkat bento. Jujur sekarang saya memang udah jarang bikin bekal bento. Secara, kalau sarapan selalu diusahakan di rumah sama suami. Dan kalau menjelang makan siang, saya usahakan selalu masak di rumah dan makan bersama suami juga. Beginilah enaknya kalau sekantor dengan suami plus rumah juga dekat sama kantor, hehe.

Sekarang, saya tidak sabaaarrr praktek bikin bekal bento ala Bento Mania buat ke sekolah si kecil nanti. Sebulan lagi ya nak, lahir sehat dan cepat gede supaya umi bisa cepet bikinkan adek bekal. Aamiin... :D

Happy weekend! ^^